Travelling ke pulau sama balita? Pas long weekend pula? Hmmm...awalnya kebayang dong gimana repotnya dengan segambreng bawaan dan was was menghadapi tingkah laku krucils selama di perjalanan. Tapi karena memang sudah niat dan happy duluan bawaannya, segala rintangan akhirnya bisa kami hadapi (ciee bahasanya...)

Bulan Mei kantor saya ngadain outing karyawan ke Pulau Pramuka, salah satu tujuan wisata air di Kepulauan Seribu. Bapaknya Alun dan Lintang, yang notabene seorang scuba diver dan pecinta laut, gak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengenalkan kedua anaknya pada laut sejak usia dini. Karena bukan karyawan, maka dia dan anak-anak dikenakan additional charge per orang Rp.425,000 (all in). Berhubung Lintang masih 2 tahun, jadi yang kena charge hanya bapaknya dan Alun saja.

Trip outing kantor saya kali ini benar-benar sistem backpakeran, tapi tentunya tetap menggunakan travel organizer, agar acara selama di sana gak kocar kacir. Barang bawaan kami buat seminim mungkin, apalagi trip kali ini hanya 2 days 1 night. Jadi baju anak-anak pun saya gak bawa banyak-banyak. Mainan pun gak satupun yang dibawa.

Perjalanan atau lebih tepatnya perjuangan dimulai dari: menuju Pelabuhan Muara Angke. Kami harus berjalan kaki sebelum pintu gerbang pelabuhan menuju kapal, dikarenakan macetnya jalanan menuju tempat tersebut, sehingga bis carteran kami gak bisa nimbus sampai parkiran. Maklum, long weekend, jadi ribuan orang secara bersamaan menyeberang ke berbagai pulau di Kepulauan Seribu di hari dan jam yang sama. Kapal kayu yang kami tumpangi berangkat pukul 08.00 WIB. Oya, karena mengejar kapal jam 08.00 WIB itu, dari rumah kami berangkat jam 05.00 (kumpul di kantor saya dulu) dan anak-anak sudah saya bangunkan, mandikan dan beri sarapan di jam 03.00 WIB. Dan everything is fine, thank you Allah.

Kembali ke kapal tadi, jangan harap dapat bisa dapat tempat duduk yang lega dan nyaman ya. Ada harga ada rupa kalo istilah orang-orang jaman dulu. Dengan biaya sekali menyeberang sekitar Rp40,000 per orang, bisa dibayangkan fasilitas yang kita terima, jika dibandingkan menyeberang nyaman dengan speedboat dari Pantai Marina Ancol yang per kepala bisa di-charge Rp.150,000an. Kapal sudah penuh dengan orang, bahkan sampai ke atas atap kapal, namun sepenuh-penuhnya kapal, untung masih ada celah untuk sekedar ngampar/duduk. Di dalam kapal, alhamdulilah anak-anak tidak cranky, tidak mual, tidak muntah. Bahkan mereka sangat menikmati perjalanan menyeberang itu, walaupun cuaca lumayan panas. Lintang malah tidur pulas di perjalanan. Menyeberang ditempuh selama 2 jam 30 menit.

Sampai di dermaga Pulau Pramuka, kami berjalan menuju penginapan dan istirahat sejenak. Karena pas hari Jumat, untuk para pria dipersilakan sholat Jumat dulu. Di Pulau Pramuka ini gak perlu takut kekurangan apapun, karena pulau ini berpenduduk padat, sehingga dengan mudah kita jumpai warung di mana-mana. Entah warung sembako, warung/kedai makanan, dan plus pointnya lagi: ada ATM (hanya ATM Bank DKI), RSUD dan kantor pos. Lengkap kan?

Setelah itu, kami makan siang dan kemudian bersiap-siap untuk snorkeling. Untuk snorkeling sendiri, menggunakan kapal nelayan kecil dan kami berangkat menuju pulau Semak Daun bersama guide dari travel organizer kami, hanya serombongan saja, tidak bercampur lagi dengan wisatawan lainya. Selama 30 menit-an kami naik kapal menyeberang ke pulau ini. Pulau Semak Daun sangat berbeda dengan Pramuka. Di pulau ini, tidak nampak rumah-rumah penduduk. Banyak wisatawan datang ke pulau ini untuk sekedar camping dan bermain di pantai yang pasirnya putih dan bersih. Tour guide membawa kami kesini hanya untuk latihan snorkeling. Maklum sebagian besar dari kami belum punya pengalaman samasekali tata cara snorkeling tersebut. Sementara aktivitas the real snorkeling-nya sendiri akan dilakukan di Pulau Air.

Selama di Pulau Semak daun, teman-teman kantor belajar snorkeling, sementara saya menemani Alun dan Lintang bermain dan berenang di pantai. Kebetulan pas trip kali ini, saya sedang datang bulan jadi gak mungkin banget dong yaaa ikutan teman-teman berenang-renang di tengah laut. Dari pihak panitia kantor saya, menyediakan kamera SLR plus quadcopter untuk mendokumentasikan outing kali ini. Nah ini salah satu foto Pulau Semak daun yang berhasil difoto menggunakan quadcopter tersebut.

Selesai latihan di Pulau Semak Daun, kapal membawa rombongan kami ke Pulau Air. Awalnya Alun nampak takut dengan ombak yang lumayan besar. Bapaknya terus meng-encourage Alun supaya tidak takut dengan ombak dan laut (FYI: Alun itu bahasa Jawa dan artinya adalah ‘ombak'. Duh susah yaa nikah dengan seorang scuba diver, sampai nama anakpun harus related dengan laut, hahahaha....), dan akhirnya ketakutan Alun hilang, malah dia nampak sangat excited. Sementara Lintang, nampaknya lelah dan karena kena angin laut, dia malah ngantuk dan tidur di pelukan saya.

Sampai di Pulau Air, rombongan kami semua nyebur untuk snorkeling kecuali saya dan beberapa teman perempuan yang kebetulan juga sedang datang bulan. Alun juga ikutan walau hanya berenang bukan snorkeling.

Setelah puas snorkeling, kapal membawa kami singgah sebentar di tempat penangkaran ikan hiu. Puas melihat-lihat penangkaran, dan matahari pun sudah mulai tenggelam, kami pulang ke Pramuka. Setelah bersih-bersih, kami makan malam. Acara belum selesai, karena jam 23.00 WIB kami pun barbeque-an. Bakar jagung, ikan dan cumi-cumi. Sementara bapak ibunya barbeque-an, Alun dan Lintang sudah pulas tertidur karena kecapaian :)

Hari kedua, sebelum sarapan pagi, masih sempat bermain di pantai yang jernih dan melihat serombongan anak muda sedang melakukan aktivitas penanaman dan perawatan mangrove.

Selesai sarapan pagi, kami boleh memilih mau main banana boat atau kano. Berhubung bawa dua krucil, kayaknya banana boat bukan pilihan deh. Akhirnya kami pun bermain kano. Sempat bingung karena guide tidak memberikan life jacket (pelampung). Pas saya tanya, dia hanya menjawab : bu, itu cetek kok airnya. Sempet was-was juga, tapi pas dijalanin wah senangnya minta ampun!

Mendayung kano sendiri dan ternyata benar bahwa mulai dari bibir pantai sampai sekitar 50 meter ke arah tengah area ber-kano itu, airnya super cetek. Cuma sebetis orang dewasa. Bahkan saking ceteknya, kano kami beberapa kali kandas. Berputar-putar dengan kano yang sesekali berjalan karena tiupan angin (meringankan beban kami mendayung) sangat mengasyikkan untuk kami sekeluarga. Rasanya gak pengen berhenti. Tapi berhubung kami harus segera check out dan naik kapal ke Jakarta di jam 11.00 WIB, akhirnya kami pun mengakhiri serunya ber kano ria.

Setelah itu kami bersih-bersih, makan siang dan siap kembali ke Jakarta. Kami kembali naik kapal kayu yang sama dengan saat datang. Dan terpaksa lesehan karena sudah gak ada tempat lagi. Selama perjalanan pulang ke Jakarta, Alun tidur pulas, sementara adiknya asyik ngajakin bapaknya main. Dan sama seperti saat berangkat ke Pramuka, alhamdulilah kami semua tidak ada yang mabuk laut.

Rasanya ingin besok lusa kembali lagi liburan di pulau, tapi tentunya pulau yang lain. Supaya pengalamannya juga beda. Moral of the story: kalau memang sudah niat liburan dengan balita, orang tuanya mesti happy dan positive thinking dulu, supaya nular secara psikologis ke anaknya, dan ending-nya semuanya berjalan sukses.