Alasan kami berlibur long weekend di Jogja saat Idul Adha adalah agar bisa menyaksikan acara budaya Grebeg Besar yang diselenggarakan Keraton Yogyakarta. 

Gerebeg Besar merupakan upacara adat yang dilangsungkan untuk merayakan Idul Adha. Dalam acara ini pihak keraton akan memberikan sedekah kepada rakyat berupa gunungan yang diarak dari Kompleks Keraton menuju Masjid Agung Kauman, kemudian diperebutkan oleh masyarakat. (sumber : yogyes.com)

Jumat, 26 Oktober 2012, usai sholat Ied di Alun-alun Utara, kami pulang ke penginapan untuk ganti kostum dan sarapan. Pukul 10.00 kami kembali ke  Alun-alun Utara untuk nonton Grebeg. Tiba di sana ternyata acara baru saja dimulai. Prajurit-prajurit Keraton sebagian sudah berjajar di tepi jalur tengah alun-alun. Tak apalah sedikit terlambat, toh acara masih panjang. 

Cuaca saat itu sangat panas tapi tak menyurutkan semangat kami nonton Grebeg. Anak-anak tidak rewel. Paling bungsuku, Raia (7 thn) yang minta mainan parasut yang dijual di sekitar arena.  Karena dia tidak tertarik dengan iring-iringan pasukan Keraton, dia pindah ke tanah lapang untuk main parasut. 

Kesatuan-kesatuan prajurit bergiliran keluar Keraton diiringi drum band ala Keraton. 

Salah seorang prajurit di dekat kami tiba-tiba memberi peringatan, Awas! Tutup kuping!” Belum paham apa maksudnya, tiba-tiba terdengar suara “DOR!!”. Ternyata para prajurit menarik pelatuk senapan (tanpa peluru) yg diarahkan ke atas. Saya dan anak-anak kaget seketika. Setelah menyadari apa yang terjadi saya malah tertawa. Hahaha... Suasananya meriah sekali. 

Akhirnya saat yang paling dinantikan tiba. Lima Gunungan keluar dari Keraton. Gunungan-gunungan ini diarak menuju Masjid Gedhe. 

Setengah berlari kami ikuti terus arak-arakan tersebut seperti halnya yang dilakukan masyarakat sekitar. Suara drumband pengiring terus membahana, memeriahkan suasana. Tak kami rasakan keringat yang menetes, kulit yang kepanasan, debu beterbangan.

Gunungan masuk pelataran Masjid Gedhe. Begitu pun kami. Namun demi keamanan, saya, Aby (9 thn) dan Raia (7 thn) kemudian menepi. Cukup menyaksikan dari jauh. Sambil menyaksikan kami sempat membeli Ndhog Abang (telur merah) dari simbah/nenek yang berjualan di situ. Ndog abang ini hanya dijual saat-saat tertentu, misalnya Grebeg. Jadi cukup langka. Ada yang beranggapan Ndhog ini mengandung berkah.

Sementara itu, Refqy (14 thn) dan papanya masih bersemangat mengikuti arak-arakan karena ingin sekali ambil gambar acara budaya ini. Daaan... perebutan gunungan pun dimulai. Beberapa laki-laki naik ke puncak gunung untuk mengambil hasil bumi yang ada di gunungan itu. Ada yang untuk dimiliki sendiri, ada pula yang dilempar untuk dibagikan ke orang-orang yang sudah merubung. Para photografer dengan berbagai cara berusaha mengambil gambar untuk mendapatkan hasil terbaik dari acara ini.

Papa Freddy pun akhirnya ikut berebut, menarik bambu dari gunungan yang ada di depan matanya. Yey! Papa dapet kue. Suasana penuh kompetisi tapi serba menyenangkan. Seru banget. 

Dalam sekejap lima gunungan “bersih”. Yang tersisa hanya kerangkanya. Isi gunungan sudah berpindah tangan ke rakyat. Kerumunan pun bubar. Raut wajah menyiratkan kepuasan dan kegembiraan meskipun ada yang pulang dengan tangan kosong.

Kami pun berkumpul kembali dengan membawa hasil perjuangan. Sedikit tapi berkesan.

Grebeg Besar selesai. Kami menuju kampung Kauman yang letaknya di belakang Masjid Gedhe untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara. Mampir sejenak di penjaja kue-kue Kauman yang legend. Hmm.. memang enak :)

 

Penulis:

Yuselin Lesmanasari

Follow her twitter: https://twitter.com/Yus3R

Facebook : http://www.facebook.com/yuselin.anakkulelakisemua

Email: [email protected]