Liburan kemarin saya "Hiking" sama anak. 

Serius?

Yup. Meskipun anak saya baru berusia 6 tahun, tapi kalau yang namanya petualangan berbau alam, dia pasti semangat. Jadi, kali ini, kami membatalkan rencana midnight shopping di Semarang (yeah, rencana awalnya memang parah banget haha), kita belok kiri dan menginap di Bandungan. Keesokan paginya, kita berangkat naik ke lereng Gunung Ungaran untuk melihat Candi Gedong Songo.

Terletak 10 menit dari kota Bandungan (sekitar 45 km dari kota Semarang), Candi Gedung Songo merupakan kompleks candi Hindu peninggalan Wangsa Syailendra yang terdiri atas 9 buah candi. Candi pertama yang terletak cukup rendah menjadi favorit wisatawan dan menjadi tempat pangkalan kuda dan penjual tikar. Perjalanan menuju candi lainnya cukup jauh dan mendaki sehingga banyak wisatawan yang memilih duduk di taman sekitar candi pertama.

Seperti tempat wisata lokal lainnya, tempat ini juga tidak mahal. Harga tiket masuk sekitar 7500 Rupiah per orang. Candi-candi yang ada di kompleks candi ini tersebar di beberapa bagian gunung dan kami membutuhkan sekitar 2 jam untuk naik ke atas, istirahat di warung, foto-foto dan turun lagi ke bawah. Turunnya lebih cepat soalnya kami berlomba dengan gerimis yang mulai datang hahaha.

Kalau tidak kuat hiking, ada banyak kuda yang bisa disewa untuk naik turun dengan harga cukup terjangkau. Satu kuda bisa dinaiki berdua (1 dewasa 1 anak). Selain menikmati udara yang segar dan pemandangan yang indah, anda bisa mengajak anak berkuda juga. Rute yang dibuat juga memungkinkan anda menikmati pemandangan berbeda karena anda tidak naik dan turun dari jalan yang sama.

Banyak warung dan tukang jualan (mulai dari minuman sampai tempe goreng dan indomie dengan harga masuk akal) membuat pendakian jadi lebih mudah karena anda bisa berhenti kapan saja (dan kalau hujan juga bisa berteduh kapan saja). Saya berhenti di tengah, di hot spring (pemandian air panas) yang terletak di tengah tempat wisata.
 


Jalur Pendakian 

Jalan keluar candi melewati tempat penjualan sovenir dan warung lesehan yang rata-rata menyediakan sate kelinci. Harga makanan yang cukup murah bisa menjadi alternatif ketika jam makan siang tiba daripada turun mencari makan siang di Bandungan atau Ungaran. Yang paling bermasalah adalah minim-nya tempat parkir untuk kendaraan roda 4. Jika anda berkunjung pada hari Minggu/Libur Nasional, sebaiknya datang sebelum jam 9.

I really love this place.

Sayangnya hati ini sedih ketika anak saya mulai membaca tulisan-tulisan yang diukirkan pengunjung di badan candi. Seharusnya kita menjaga dan melestarikan cagar budaya kita bukan?