Liburan akhir tahun ini kembali tanpa perencanaan. Semua dipersiapkan secara mendadak. Mulai dari searching spot-spot yang akan dikunjungi – mengingat ini bukan kali pertama eksplorasi ke daerah Jawa Barat- Yogya – dan Jawa Tengah hingga booking akomodasi pada waktu-waktu peak season. 

Liburan kali ini terasa lebih spesial karena anggota baru dalam keluarga, Khaleeva, baru genap setahun. Penentuan destinasi kunjungan maupun destinasi transit sebagian besar mempertimbangkan kondisi ‘K’ –sehingga saya dan suami memutuskan setiap 4-6 jam kami akan transit di satu kota dan tidak memaksakan melanjutkan perjalanan. Untunglah Khaleeva sudah makan makanan padat sehingga dia sudah dapat mengikuti pola makan anggota keluarga lain.

Dalam rute liburan, Garut – Yogyakarta – Magelang menjadi tujuan utama. Di ketiga kota ini saya khusus mereservasi akomodasi, sementara daerah tujuan antara akan dapat berubah sewaktu-waktu. Semua hotel yang dipilih adalah kategori family hotel- yang menyediakan fasilitas dan kegiatan bagi keluarga dan terutama anak-anak.

Untuk spot wisata dipilih yang bersifat edukatif, tradisional dan alam – mengikuti interests Kanaya, si sulung yang sudah duduk di Grade 1. Tempat-tempat seperti Museum Kereta Api, Ambarawa, Museum Gunung Api, dan Lokasi Erupsi Merapi menjadi tujuan utama. Website http://liburananak.com  juga membantu saya untuk menyiapkan berbagai alternatif pilihan.

Di Garut sebagian besar kegiatan dihabiskan di Danau Dariza hotel dan resort yang memang didesain khusus untuk keluarga. Mulai dari bersampan, bermain sepeda air, hingga berenang di mini waterpark yang dilengkapi dengan kolam air hangat belerangnya dapat dilakukan. Anak-anak juga dapat belajar berbelanja dan makan kudapan tradisional melalui warung apung yang menjajakan ke tiap-tiap resort  di sepanjang danau. 

Dalam perjalanan antara Garut- Yogyakarta kami transit di kota Cirebon dan Semarang. Malam tahun baru kami lewati di kota Semarang. Keesokan paginya, kami menyempatkan menjelajahi kota tua Semarang serta Gedung Lawang Sewu di kawasan Simpang Lima, Semarang. Lawang Sewu, seperti halnya namanya ‘Seribu Pintu’, adalah bangunan yang diperuntukan sebagai kantor pusat pengelolaan Kereta Api seluruh Indonesia pada jaman Belanda. Meski demikian, situs dibuka untuk publik bukan terkait dengan fungsi bangunan pada masa itu, tetapi lebih pada arsitektur bangunan. 

Arsitektur Lawang Sewu memang didesain untuk mengantisipasi suhu kota Semarang yang panas melalui sirkulasi udara yang sangat baik melalui ratusan jendela dan pintu, langit-langit, serta ruang bawah air yang berfungsi sebagai penyejuk ruangan. Pada masa pendudukan Jepang, ruang bawah air ini kemudian berubah fungsi menjadi penjara bawah tanah. Menariknya, pada masa itu bangunan sudah dirancang dengan memperhatikan prinsip keterbukaan dalam administrasi publik. Ini terlihat dari minimnya pemisah atau sekat antar ruangan kantor– terlihat kontras dengan banyaknya jumlah jendela dan pintu pada eksterior bangunan. Pada halaman depan Lawang Sewu terdapat lokomotif kereta api peninggalan Belanda yang diambil dari Museum Kereta Api di Ambarawa.

Melanjutkan eksplorasi terkait mengenai Kereta Api, kami singgah ke Museum Kereta Api, Ambarawa. Museum ini memiliki 12 koleksi lokomotif kuno dari berbagai tipe, diantaranya, yang terbuat dari Belanda, Jerman dan Swiss. Wisatawan yang mengunjungi tempat ini juga dapat melakukan tur rute kereta Ambarawa-Bedono sepanjang 9,5 km dengan menyewa kereta yang berkapasitas 100 orang. Selama tur, wisatawan dapat menikmati pemandangan menarik pegunungan, sawah dan danau. Sayangnya, saat kunjungan, museum sedang mengalami renovasi dan kereta sudah berhenti beroperasi sejak liburan sekolah tahun lalu. Namun demikian pengunjung tetap diijinkan masuk dan melihat-lihat koleksi lokomotif serta koleksi sejumlah alat komunikasi kuno. Di sini anak-anak dapat melihat evolusi metode dan alat komunikasi antar stasiun. 

Di Yogyakarta, tujuan utama adalah lokasi erupsi Merapi. Desa-desa di area kecamatan Cangkringan, Sleman yang berada pada jarak radius 20 km bahaya dan hangus oleh Wedhus Gembel atau awan panas vulkanik dengan kecepatan tinggi itu kini menjadi daerah tujuan wisata. Wisatawan dapat melihat langsung kekuatan alam dan batu-batu vulkanik dari muntahan erupsi dengan mengendarai motor trail. Yang menjadi perhatian utama wisatawan adalah  lokasi bekas rumah Mbah Maridjan, sang Juru Kunci Merapi, dan mobil van yang hangus terbakar untuk mengevakuasi warga. 

Setelah dari lokasi erupsi kami langsung mengunjungi Museum Gunung Berapi. Museum ini dibangun setelah erupsi Merapi tahun 2006. Dengan ticket masuk IDR 8,000 termasuk pintu masuk theatre, pengunjung sudah dapat memperoleh pengetahuan yang menurut saya disajikan sangat informatif dan bahkan entertaining secara visualisasi untuk anak-anak sehingga mudah dicerna bagi anak-anak usia sekolah dasar

Di sini anak-anak dapat mengetahui bahwa sebenarnya bencana erupsi gunung berapi dapat diprediksi menggunakan ilmu pengetahuan; mulai dari pemantauan perubahan morfologi atau bentuk fisik, pemantauan aktifitas kawah, suhu, tekanan dan gempa. Mereka pun belajar berbagai tipe erupsi:  tipe dengan letusan seperti Krakatau dan Semere maupun dengan non-letusan dengan karakter awan panasnya seperti Merapi serta mengapa hal tersebut terjadi. Di Museum pun terdapat peraga gempa serta tsunami.  Anak-anak pun disuguhi peta raksasa yang menunjukkan peta gunung berapi di seluruh dunia, aktif dan non-aktif. Lokasi gunung akan menyala jika anak-anak menekan tombol pada papan informasi. 

Hotel Puri Asri menjadi pilihan saya untuk menghabiskan waktu di kota Magelang bersama keluarga. Hotel yang dibangun pada kontur tanah berbukit langsung menghadap gunung Merapi sebagai vocal point. Uniknya hotel juga dibangun di pinggir sungai. Hotel menawarkan berbagai aktifitas rekreasi mulai dari rafting, outbound, catur raksasa, dan permainan bola ping-pong. Bagi anak-anak, terdapat area playground yang luas dan mini bike circuit, permainan tradisional seperti congklak dan enggrang, dan becak air.

Dalam perjalanan dari Magelang - Jakarta, Pekalongan dengan Museum Batiknya menjadi kota transit berikutnya. Museum ini tidak hanya dipertuntukkan bagi pecinta batik. Bagi anak-anak, tempat ini juga cukup interaktif karena terdapat workshop bagaimana mereka bisa mengikutidan menghargai seluruh proses ‘cinta’hingga diperolehnya sehelai kain tradisional –mulai dari menggambarkan pola pada kain mori, menorehkan lilin atau malam melalui proses tulis dan cap, hingga proses pewarnaan dan meluruh ‘ngelorod’ malam. 

Yang pasti liburan kami ini meskipun dilakukan tanpa perencanaan yang matang, kami sangat menikmatinya. Walaupun membawa balita namun kami menjalaninya dengan santai, tanpa target dan tidak ngoyo harus ke tempat-tempat yang telah kami incar sebelumnya.
 
Intinya, saat liburan anak-anak itu sama seperti orang dewasa: ingin santai, menikmati suasana tanpa harus diburu-buru dan karena suasana yang rileks mereka jadi sangat cepat menyerap dan mengingat semua hal-hal baru yang mereka lihat, rasakan dan alami selama liburan. Hal ini terlihat dari pertanyaan-pertanyaan unik yang diajukan oleh si sulung, Kanaya, yang sepertinya sangat terkesan dengan semua pemandangan dan pengalaman yang kami pilihkan untuknya. Benar adanya kata Bapak Benjamin Franklin: “Tell me and I forget. Teach me and I remember. Involve me and I learn.” Semoga cerita dari kami bermanfaat dan nantikan cerita jalan-jalan kami selanjutnya :D